Gambar Pemandangan
IDENTIK DENGAN GAMBAR DUA GUNUNG DAN AKSESORISNYA
“Ayo anak-anak mari kita menggambar pemandangan.” Alkisah, begitulah seorang ibu guru TK atau SD sedang berkoar-koar menyuruh anak didiknya untuk memulai menggambar sebuah pemandangan beberapa puluh tahun yang lalu. Sang ibu guru tadi pun memulai memberi contoh menggambar pemandangan. Ada dua buah gunung dengan bentuk segitiga lancip, kemudian ditengahnya terdapat matahari pagi yang mengintip diantara dua gunung tersebut, diatasnya ada awan-awan yang menggantung di angkasa, dan ada pula sekawanan burung yang terbang di angkasa berbentuk seperti angka 3 tidur. Ada juga jalan raya yang mungkin juga lengkap dengan tiang listriknya. Sawah berjajar berkotak-kotak di tepi jalan dengan tanaman padi yang berbentuk seperti huruf V berderet-deret, serta rumah mungil beserta pepohonan pun menghiasi coretan gambar pemandangan tersebut. Tak jarang terdapat aliran sungai yang berkelok-kelok. Sang murid pun dengan serta merta mengikuti pola gambaran pemandangan yang dibuat oleh sang ibu guru tersebut. Dan ajaibnya pola gambar pemandangan seperti ini awet dan senantiasa terjaga kelestariannya hingga saat ini, hehehehehehehe……
Stereotype pemandangan seperti itu yang selalu tertancap erat di ingatan anak-anak Indonesia ketika hendak disuruh mengambar pemandangan. Pemandangan ya gambar dua buah gunung, ada matahari, jalan, sawah, rumah, awan, burung…. Gambar dua gunung ya seperti itulah yang dinamakan dengan pemandangan….
Dan apakah kita harus menjaga tradisi ini supaya tidak direbut dan diklaim oleh negara tetangga kita itu, Malingsia, huahahahahahaha….
Filed under: Uncategorized |










harus itu!! wajib hukumnya
xixixi….
Kenapa yak setiap gambar gunung kok jumlahnya 2 terus, hihihihi… apa sudah takdirnya begitu XD
Sori OOT. Saya perhatikan gaya tulisan Mas Anang ada perubahan ya? Saya jadi ingat gaya Paman Tyo, yang di awal tulisan selalu memberi tagline sebagai mukadimah.
Terus berkarya, Mas!
@ Zawa: Itu pencitraan dari mitos “gunung kembar,” Mas. Ups!
kalo aku lihat gambarmu ini memang pemandangan bagus nang. sebuah gunung kembar dan wajah mendongak di tengahnya
dan jalan raya itu.. andai lebih ke bawah lagi.. akan sampai ke lokasi di mana pusat keindahan pemandangan ini berada..
–
jadi asosiasinya beda antara anak kecil dengan orang dewasa..
–
apa harus dipatenkan? aku rasa iya!
jangan sampai malesia klaim itulah gambar pemandangan khas malesia
*ngelirik komen si det lalu terkekeh dengan hebatnya*
Komennya jadi pada menjurus gene…
kalo sekarang disuruh gambar pemandangan, bukan lagi sawah yang di pinggir jalan, tapi pabrik, warung/toko/supermarket dan tak ada pohon.
itu gambar sendiri yah?
wekz adikku udah pintar ngegambar
lha gak cuman murid SD lho…
coba aja yang dah tua-tua dikasih waktu 3 menit buat bikin pemandangan kan juga gambarenya kayak githcu…
kira2 salah siapa ya?…
kenapa gak nggambar pantai?
P:
#4
manusia ini pikirannya tak jauh-jauh dari wanita, seksi, semlohey, dan menjurus-menjurus lah….. ck ck ck
#7
karena banyak pembalakan liar ya cak?
Perasaan itu gambarku deh, mirip banget
:))
jd inget.
dosen di kampus melarang kita gbr sperti ituh..
“Saya tw ini gambar nasionalis anak Indonesia,tp jangan digunakan yah!!”
wakakakka
Gambar itu ketika saya dites menggambar tanpa media, dan si psikotes menjelaskan, bahwa yang digambar oleh saya seperti itu, ternyata guru TK dan SD sangat kuat menerapkan ilmunya. Sampai sekarangpun saya masih mengajarkan menggambarkan kepada anak-anak di rumah seperti itu. Mungkin gambar itu menyatakan pemandangan alam Indonesia yang pegunungan dan pesawahan. Tapi anakku bertanya. “Pa gunungnya kok tidak hijau lagi, dan sawahnya juga jarang terlihat, males ah menggambar seperti itu”
wakakkakaka
bener2 cocok dengan masa kecil saya dahulu kala
jadi inget pas lomba menggambar di SD..hiks
Salam hormat dan salam muhibbah kepada saudara saudari pembaca blog ini khususnya kepada saudara empunya blog.
Saya sebenarnya sedang search gambar-gambar pemandangan tetapi blog ini appeared. That’s why saya try melawatinya. Ternyata, ia hanya lukisan pemandangan yang telah pernah diajarkan kepada saya sejak saya di kindergarten dan sekolah rendah dahulu. Saya merasa agak terperanjat, lukisan yang hampir sama juga, rupa-rupanya sudah lama diajarkan di kalangan anak-anak murid di negara anda. Hanya saya rasa sedikit terkilan apabila ada komentar negatif mengenai negara saya Malaysia. Di sini saya ingin memperbetulkan prasangka saudara saudari rakyat Indonesia. Lukisan sedemikian juga telah lama diajarkan di sekolah negara kami Malaysia. Kenapa? Kerana kita adalah serumpun. Negara berjiran. Pemandangan desa dengan bukit, matahari, awam, burung, sawah padi, jalan raya, pondok, adalah sinonim dengan pemandangan yang ada di negara kita. Pemandangan itulah yang indah dan tenang serta kekal terpahat di sanubari kita. Kami rakyat Malaysia tidak akan menuntut (claim) lukisan itu adalah milik negara kami, kerana ia adalah milik minda anak-anak kita di negara-negara Asia Tenggara yang mempunyai pemandangan yang hampir sama. Kerana kita mempunyai iklim yang sama, rumpun bahasa yang hampir sama, suasana kampung yang hampir sama. Harap saudara saudari di Indonesia jangan marah kerana sehingga kinipun, saya masih mengajarkan lukisan yang sama kepada anak-anak murid saya sebagaimana yang pernah guru-guru saya ajarkan kepada saya untuk melukis pemandangan suatu ketika dulu.
Sekian saja. Salam hormat.
Puteri Sofea Tengku Raja Soffian Shan. Keningau, Sabah, Malaysia.
Cerita yang sudah Out of date !
Sayang jika cerita ini sampai mempengaruhi pembacanya, apalagi sampai pada meng “amin” i bahwa “cerita” di atas benar adanya…..
Salam,
Ardy